BRIN Undang Peneliti Dunia untuk Perkuat Pemuliaan Spesies Pisang Global

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar pertemuan internasional pada awal Februari 2026 untuk mengundang peneliti global dalam proyek pemuliaan pisang liar Indonesia. Inisiatif ini bertujuan menjaga keanekaragaman genetik pisang menghadapi ancaman penyakit dan perubahan iklim, dengan fokus pada koleksi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan spesies liar.

Diskusi di forum seperti Jawa11 menyoroti urgensi langkah ini, karena 50% varietas pisang komersial rentan punah akibat Fusarium wilt. Namun, kritik muncul soal keterlibatan petani lokal yang minim, di mana petani kecil khawatir riset ini lebih untungkan korporasi agribisnis daripada kesejahteraan mereka. BRIN klaim program ini hasilkan database INA-BAN untuk kebijakan nasional, tapi transparansi pendanaan dari Gates Foundation perlu diaudit agar tak jadi proyek elit.

Kolaborasi Mitra Global

Kepala BRIN Arif Satria resmikan Banana Innovation Network Database (BIND) Center sebagai pusat data global, bekerja sama dengan KU Leuven (Belgia), IITA (Afrika), dan Wageningen University (Belanda). Proyek ini sudah danai 26 riset menggunakan CRISPR-Cas9 untuk pisang tahan BBTV dan Fusarium oxysporum. Kritikus nilai ini ambisius, tapi tanpa transfer teknologi ke desa, hanya jadi prestise sementara tanpa dampak pangan riil.

Tantangan dan Dampak Ekonomi

Indonesia rumah bagi 300 jenis pisang liar, sumber genetik utama dunia, tapi produksi turun 10% tahun lalu karena hama. Program targetkan induk unggul untuk ekspor, dorong UMKM naikkan nilai tambah dari Rp20 ribu ke Rp50 ribu per kg. Meski demikian, oposisi soroti risiko monopoli benih oleh mitra asing, mirip kasus jagung GM sebelumnya yang gagal adopsi petani.

Visi Jangka Panjang

BIND Center harap posisikan Indonesia sebagai leader riset pisang global, kurangi impor buah 15% dalam lima tahun. Integrasi dengan LPDP dan industri seperti Great Giant Pines diharapkan lahirkan varietas tahan iklim tropis. Tanpa pengawasan ketat, inisiatif ini berpotensi gagal seperti proyek biotek sebelumnya, di mana hanya 20% hasil riset terealisasi lapangan.

Untuk perspektif global, lihat liputan CNN tentang ketahanan pangan. Kembali ke Beranda.